Kamis, 15 Oktober 2009

AR!SE (A Research !nto [new] Socialist Era)


Banyak orang berpendapat bahwa Sosialisme selalu terkait dengan ajaran Marxisme. Bila melihat dari segi historis, memang benar adanya bahwa paham sosialisme merupakan turunan dari ajaran mengenai komunisme yang disadur dari pemikiran Karl Marx (Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – London, 14 Maret 1883). Suatu pemahaman yang menelaah keadaan sosial pada abad ke 17, yang menurut Marx pada saat itu kondisi para pekerja telah dikondisikan oleh para kaum borjuis untuk selalu berada dalam status quo, tidak memiliki suatu alat produksi serta statusnya yang dalam teori selalu dikondisikan sebagai kaum proletar tanpa ada perkembangan yang berarti. Pada perkembangannya, paham ini memiliki banyak pendukung serta melahirkan banyak alur-alur pemikiran lainnya namun tetap dikuasai secara mayoritas oleh inti pemikiran Marx. Terkadang, pengikut dari pemikiran ini sering kali membicarakan strategi-strategi untuk memenangkan sosialisme atas kapitalisme. Tujuan akhir dari pemikiran Marxisme adalah terciptanya suatu kondisi dunia tanpa kelas, dimana hanya ada komune-komune yang memiliki pemimpin-pemimpin sendiri, secara ilmiah disebut sebagai "scientific communism".

Pada perkembangannya, cita-cita mewujudkan scientific communism menjadi suatu hal yang seringkali disebut sebagai "mimpi" belaka. Terlebih dalam kondisi paham kapitalisme yang sudah merajai dunia saat ini, cita-cita tersebut menjadi suatu hal yang menurut penulis sangat sulit atau bahkan tidak dapat tercapai. Banyak pengikut dari paham dan cita-cita Marxisme kemudian disebut sebagai kaum utopis.

Dalam tataran tertentu, penulis setuju dengan "niat" dan tujuan sosialisme, terkhusus dalam cita-citanya menuju masyarakat yang sama rata. Namun mesti disadari, bahwa kondisi yang seperti apa yang menjadi kondisi ideal untuk diciptakan jika sudah mencapai tahap "penyamarataan"? apakah seperti Marx katakan, untuk membangun suatu masyarakat tanpa kelas? tanpa kelas dengan kondisi apa? bicara tentang ekonomi politik, kondisi ekonomi yang seperti apa? dan apakah nanti pada perkembangannya "masyarakat tanpa kelas" itu tidak akan kembali kepada pemikiran-pemikiran kapitalisme mengingat pemikiran manusia yang selalu berkembang?

Disini penulis sedikit banyak terpengaruh dengan kondisi dan perkembangan sosialisme di Republik Rakyat Cina (RRC). Suatu kondisi sosialisme yang tidak lagi dipenuhi dengan segala macam pemikiran Marx (kalau boleh dibilang sedikit), memiliki tujuan yang lebih jelas dalam hal penyamarataan sumber daya ekonomi. Secara mudah, apa yang dilakukan RRC adalah strategi pemenuhan sumber-sumber daya dalam berbagai formasi untuk kemudian didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota (masyarakat). Dalam pelaksanaannya pun, RRC tidak kemudian selalu berkaca dari strategi Marxisme, namun lebih melakukan penggabungan antara strategi kolektifitas sumber daya dari paham Kapitalisme dan memadukan sentralistik hukum serta pemerintahan a la Sosialisme Komunis. Perpaduan kedua strategi tersebut menciptakan suatu kekuatan dalam pemerintah, namun tidak kemudian mengekang perkembangan ekonomi pasar yang berlaku.

Sekarang bukan lagi saatnya untuk mempermasalahkan ideologi mana yang terpaling benar, namun, tujuan bagi kesejahteraan masyarakat haruslah menjadi prioritas. Tidak lagi memikirkan tentang perbedaan kelas, namun juga tidak menjadi serakah dalam meraup sumber daya.

Saatnya semua pihak berfikir keras, saat nya menuju suatu pemikiran baru dalam Era Sosialisme! suatu pemikiran tanpa ajaran Marxisme!

*oleh Adjie AR!SE*

2 komentar: